maya_cerpen

Sabtu, 04 Januari 2014



Kuurai sajadahku dalam pelukanmu, Ibu
By: Maya Chezee
“Aulia.”
“Auliaa..”
“Auliaaa..aa”
3 kali ibu memanggil namaku yang tiada satupun kuhiraukan. Ntah apa, ntah mengapa, kuselalu tak suka dipanggil ibu saat aku sibuk dengan facebookku. Aku masih tetap dengan keeksisanku didunia maya. Upload fotoku yang baru tadi siang ku ambil bersama teman-temanku. Mengubah foto profilku yang sebelumnya bergaya dengann jari telunjuk dan jari tengah menghadap kamera sekarang dengan jariku yang kutaruh didagu dan sedikit tersenyum manis memamerkan lubang dipipiku. Teman-temanku bilang itu yang menambah kecantikanku dan itu juga yang membuat setiap cowok-cowok terpesona melihatku.
“aduhh..” teriakku pelan.
Ibu memukul pundakku dengan jemarinya. Namun tetap tidak mengubahku meneruskan aktifitas facebookku, malah aku meneruskan memilah dan memilih foto mana yang bisa terpilih untuk memenuhi kumpulan fotoku difacebook. Sekali lagi ibu menepuk pundaku, tetap ku sibuk, dan akhirnya ibu mengambil laptopku. Dengan suara tinggiku, kubentak ibu.
“Astaghfirullah... nak, ibu sedari tadi memnggilmu untuk sholat, tapi kau hanya menghiraukan panggilan setan itu untuk menyuruhmu tidak sholat, malah ibumu yang kau bentak” Mata ibu terlihat berkaca-kaca, lalu pergi meninggalkanku dengan langkah kecewanya.
Aku terdiam sejenak, ada rasa penyesalan itu, namun beberapa detik ibu berlalu, kuteruskan lagi mengupload fotoku yang tinggal 2 lagi. Setelah kepuasanku menelusuri mauku didunia maya, barulah kuberanjak menunaikan sholat.
***
Pagi-pagi seperti biasa jam setengah 5 ku dibangunkan ibu untuk bersiap sholat subuh. Dengan rasa ngantukku, ku tidak mengubris panggilan ibu. Ibu datang kekamarku dan berusaha untukku segera bangkit dari tempat tidur. Dan lagi, suara berlevel tinggi keluar dari mulutku.
Dengan pelan ibu menjawab “Cukuplah engkau abaikan panggilan ibu, tapi jangan engkau abaikan panggilan Allah. Jangan perlihatkan kemarahanmu, karena marah Allah lebih menyeramkan dari ini nak”.
Aku bangkit dari tidurku, namun tetap dalam hatiku terselip kekesalanku pada ibu, karena telah menggangu tidurku.
***
Sudah hampir jam 8, teman sebangkuku yang biasanya paling rajin datang kesekolah kini belum terlihat batang hidungnya. Kulihat HP ku, tidak ada sms satupun pemberitahuan kabar darinya. Terlintas dalam pikiranku dia tak mungkin tak akan datang, karna hari ini ada kuis Matematika pelajaran kesukaannya. Akhirnya guruku datang, aku mulai ketakutan akan kuis itu, teman sebangku yang biasanya menolongku tetap belum datang. Tapi, ternyata ibu guru bukan mengasih kuis tapi ibu mengasihkan informasi bahwasanya salah satu orang tua dari teman sekelasku meninggal dunia.
“apaaa..... tidak, ini tidak mungkin. Kemarin baru saja kebercanda dengan ibunya” Aku kaget sangat kaget dengan pemberitahuan itu.
Tenyata itu ibu Pricil teman sebangkuku. Pantas dia pagi ini tidak masuk sekolah. Aku tak menyangka, karena kuyakin kemaren Ibu Pricil masih dalam keadaan sehat wal’afiat. Namun itulah maut, tidak mengenal hari, waktu, tempat dan apapun didunia ini.
Bukan Pricil yang ku fokuskan, tapi dalam sejenak pikiranku melayang pada ibuku. Bagaimana jika ibuku?, bagaimana jika aku?, bagaimana..... Beribu pertanyaan tertuang dalam pikiranku. Aku merasakan ketakutan jika kehilangan ibu.
***
“Assalamu’alaikum”  Kuucapkan salam yang tak biasanya terucap setibanya ku dirumah.
Belum sempat ibuku menjawab, ku berlari ke arah ibu dan memeluk ibuku erat. Ibu kelihatanya bingung dengan tingkahku, dia hanya menanyakan kenapa aku telat pulang. Aku menceritakan kejadian yang menimpa temanku, dan tanpa ku harus menjelaskan bahwa aku juga takut mengalami kejadian itu, aku takut kehilangan ibu, aku takut jauh dari ibu, karena kumalu mengatakannya. Tapi raut wajah ibu sepertinya tahu yang kurasakan, keluar senyuman manis dipipinya, ternyata lubang pipi ibu lebih manis dari yang ku punya.
“Ibu manis” sedikit ku merayu ibu.
Ibu hanya tersenyum dan berlalu pergi sambil ia mengatakan nasi sudah tersedia di meja. Aku segera berlari, karena kebetulan perut ini lapar sekali.
Malamnya setelah magrib, kumenuju dapur dan kuberniat memasakan sesuatu untuk ibu, namun ntah mengapa dadaku terasa sesak. Sakit sekali rasanya, aku belum pernah merasakan hali ini. Ibu berlari menghampiriku karena melihatku kesakitan.
“Kenapa nak?” dengan suara lembutnya, ibu bertanya keadaanku.
Aku tidak menjawab, suara ini seakan ditahan dengan deru nafasku yang kian menyakitkan dadaku. Ibu membawaku ke rumah bidan yang berada tidak jauh dari rumah. Tibanya disana, kami harus menunggu sesaat, karena ada pasien yang lebih dulu datang dari kami. Tibalah giliranku untuk diperiksa. Bidan itu berkata aku hanya kelelahan saja, perlu banyak istirahat. Bidan itu hanya memberikanku obat penghilang rasa sakit jika sesak nafasku tiba. Ibu sangat senang mendengar bahwa aku tidak apa-apa. Ada kebahagiaan diraut wajahnya, walau terselip kekuatiran dihatinya.
***
2 minggu berlalu, hari-hariku berjalan tidak seperti biasa. Semenjak kejadian yang menimpa teman sebangkuku, aku tak mau lagi membentak ibu, aku takut jika hal itu terjadi padaku. Namun bukan hal itu saja yang berubah, sesak nafas yang tak biasa kurasa, kini datang tiba-tiba tanpa dapat kuprediksi. Aku lebih sering libur sekolah akhir-akhir ini, malah ibu yang rajin kesekolah untuk membuatkan surat izin untukku. Ntah sudah berapa buah namaku tercatat setiap halaman buku izin sekolah.
Disetiap sakit yang kurasa, ibu selalu bersiap siaga didekatku. Tidak seperti aku, yang jika ibu sakit, aku malah sengaja meninggalkan rumah lalu pergi bersama teman-temanku dari pada aku harus mengurus ibu. Ada rasa bersalah dibenakku, namun tak dapat ku ambil lagi masa laluku yang begitu jahat sama ibu. Tapi aku ingin memperbaikinya, ingin mengubah cerita yang kupunya lebih menyenangkan dari sebelumnya. Ingin mengubah air mata ibuku menjadi tawa bahagia disetiap hari yang ia punya.
***
Subuh ini kubangun lebih awal, kuberlari kekamar ibu dan membangunkannya perlahan.
“Ibu..., ibu” bisikku ketelinganya.
Ibu terbangun, dilihatnya jam yang berada didekatnya. Ibu tidak marah padaku, ibu kembali memperlihatkan lubang pipinya padaku, dan itu menambah sejuknya raut wajah ibu. Ibu  selalu paham akan inginku. Ibu bangun dan menggandeng tanganku untuk berbarengan pergi ambil wudhu.
“Oowwh, Ya Allah salah besarku padanya, hati apa yang kupunya selama ini, sampai kuterlalu tega padanya. Lihat kelembutan hatinya. Ampunilah ia ya Allah” bisikku dalam hati.
Adzan subuh berkumandang, kami bersiap-siap untuk sholat berjamaah. Diakhir salamku, dadaku mulai sesak lagi. Tapi kali ini terasa menyakitkan dari yang biasanya. Ku pegang dadaku erat.
“Ibu.... Ibu” Rintihku.
Aku tergeletak dihamparan sajadah yang baru saja selesai kugunakan untuk sholat. Walau mataku sedikit kabur, aku melihat wajah ibu sangat kuatir dan panik. Ibu memeluku erat, air matanya jatuh dipipiku. Terasa setetes demi setetes mengenai wajahku, tapi ntah kenapa air mata itu menyejukanku. Itu air mata ibuku, yang selalu tumpah karena aku, karena aku yang selalu membentaknya, karena aku yang selalu memarahinya, yaa..... aku yang selalu membuatnya menangis. Walau dada ini terasa sangat sakit, tapi tetap kucoba usap perlahan air mata dipipi ibu. Ibu semakin memeluku erat. Mata ku kian buram, dan tak mampu kulihat apa-apa lagi.
Sajadahku kini berurai air mata, sajadahku menjadi saksi bisu hal yang terjadi di subuhku. Kini sajadahku tak mampu lagi ku genggam. Sajadahku menjadi tempat terakhirku bersujud padaNya, dan sajadahku tempat terakhir kurasakan pelukan hangat ibuku.
***
“Nak, dalam sujud ibu selalu terselip namamu. Ibu ingin engkau bahagia nak, bahagia disisiNya. Ibu selalu mencintaimu” Doa ibu, didepan pusaraku

_The End_


Sedikit Mengenai Penulis
Bismillahirahmanirrohim........
Dikenal dengan nama nama akrab Maya Chezee, lahir 17 April 1993. Menyukai hal-hal yang berhungan dengan multimedia. Apalagi segala jenis desain. Kini berkuliah di Universitas Riau, Jurusan Ilmu komunikasi angkatan 2011 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

0 komentar: