Kuurai sajadahku dalam pelukanmu,
Ibu
By:
Maya Chezee
“Aulia.”
“Auliaa..”
“Auliaaa..aa”
3 kali ibu memanggil
namaku yang tiada satupun kuhiraukan. Ntah apa, ntah mengapa, kuselalu tak suka
dipanggil ibu saat aku sibuk dengan facebookku. Aku masih tetap dengan
keeksisanku didunia maya. Upload fotoku yang baru tadi siang ku ambil bersama
teman-temanku. Mengubah foto profilku yang sebelumnya bergaya dengann jari telunjuk
dan jari tengah menghadap kamera sekarang dengan jariku yang kutaruh didagu dan
sedikit tersenyum manis memamerkan lubang dipipiku. Teman-temanku bilang itu
yang menambah kecantikanku dan itu juga yang membuat setiap cowok-cowok
terpesona melihatku.
“aduhh..” teriakku
pelan.
Ibu memukul pundakku
dengan jemarinya. Namun tetap tidak mengubahku meneruskan aktifitas facebookku,
malah aku meneruskan memilah dan memilih foto mana yang bisa terpilih untuk
memenuhi kumpulan fotoku difacebook. Sekali lagi ibu menepuk pundaku, tetap ku
sibuk, dan akhirnya ibu mengambil laptopku. Dengan suara tinggiku, kubentak
ibu.
“Astaghfirullah... nak,
ibu sedari tadi memnggilmu untuk sholat, tapi kau hanya menghiraukan panggilan
setan itu untuk menyuruhmu tidak sholat, malah ibumu yang kau bentak” Mata ibu
terlihat berkaca-kaca, lalu pergi meninggalkanku dengan langkah kecewanya.
Aku terdiam sejenak,
ada rasa penyesalan itu, namun beberapa detik ibu berlalu, kuteruskan lagi
mengupload fotoku yang tinggal 2 lagi. Setelah kepuasanku menelusuri mauku
didunia maya, barulah kuberanjak menunaikan sholat.
***
Pagi-pagi seperti biasa
jam setengah 5 ku dibangunkan ibu untuk bersiap sholat subuh. Dengan rasa
ngantukku, ku tidak mengubris panggilan ibu. Ibu datang kekamarku dan berusaha untukku
segera bangkit dari tempat tidur. Dan lagi, suara berlevel tinggi keluar dari
mulutku.
Dengan pelan ibu
menjawab “Cukuplah engkau abaikan panggilan ibu, tapi jangan engkau abaikan
panggilan Allah. Jangan perlihatkan kemarahanmu, karena marah Allah lebih
menyeramkan dari ini nak”.
Aku bangkit dari
tidurku, namun tetap dalam hatiku terselip kekesalanku pada ibu, karena telah
menggangu tidurku.
***
Sudah hampir jam 8,
teman sebangkuku yang biasanya paling rajin datang kesekolah kini belum
terlihat batang hidungnya. Kulihat HP ku, tidak ada sms satupun pemberitahuan
kabar darinya. Terlintas dalam pikiranku dia tak mungkin tak akan datang, karna
hari ini ada kuis Matematika pelajaran kesukaannya. Akhirnya guruku datang, aku
mulai ketakutan akan kuis itu, teman sebangku yang biasanya menolongku tetap
belum datang. Tapi, ternyata ibu guru bukan mengasih kuis tapi ibu mengasihkan
informasi bahwasanya salah satu orang tua dari teman sekelasku meninggal dunia.
“apaaa..... tidak, ini
tidak mungkin. Kemarin baru saja kebercanda dengan ibunya” Aku kaget sangat
kaget dengan pemberitahuan itu.
Tenyata itu ibu Pricil
teman sebangkuku. Pantas dia pagi ini tidak masuk sekolah. Aku tak menyangka,
karena kuyakin kemaren Ibu Pricil masih dalam keadaan sehat wal’afiat. Namun
itulah maut, tidak mengenal hari, waktu, tempat dan apapun didunia ini.
Bukan Pricil yang ku
fokuskan, tapi dalam sejenak pikiranku melayang pada ibuku. Bagaimana jika
ibuku?, bagaimana jika aku?, bagaimana..... Beribu pertanyaan tertuang dalam
pikiranku. Aku merasakan ketakutan jika kehilangan ibu.
***
“Assalamu’alaikum” Kuucapkan salam yang tak biasanya terucap
setibanya ku dirumah.
Belum sempat ibuku
menjawab, ku berlari ke arah ibu dan memeluk ibuku erat. Ibu kelihatanya
bingung dengan tingkahku, dia hanya menanyakan kenapa aku telat pulang. Aku
menceritakan kejadian yang menimpa temanku, dan tanpa ku harus menjelaskan
bahwa aku juga takut mengalami kejadian itu, aku takut kehilangan ibu, aku
takut jauh dari ibu, karena kumalu mengatakannya. Tapi raut wajah ibu
sepertinya tahu yang kurasakan, keluar senyuman manis dipipinya, ternyata lubang
pipi ibu lebih manis dari yang ku punya.
“Ibu manis” sedikit ku
merayu ibu.
Ibu hanya tersenyum dan
berlalu pergi sambil ia mengatakan nasi sudah tersedia di meja. Aku segera
berlari, karena kebetulan perut ini lapar sekali.
Malamnya setelah
magrib, kumenuju dapur dan kuberniat memasakan sesuatu untuk ibu, namun ntah
mengapa dadaku terasa sesak. Sakit sekali rasanya, aku belum pernah merasakan
hali ini. Ibu berlari menghampiriku karena melihatku kesakitan.
“Kenapa nak?” dengan
suara lembutnya, ibu bertanya keadaanku.
Aku tidak menjawab,
suara ini seakan ditahan dengan deru nafasku yang kian menyakitkan dadaku. Ibu
membawaku ke rumah bidan yang berada tidak jauh dari rumah. Tibanya disana,
kami harus menunggu sesaat, karena ada pasien yang lebih dulu datang dari kami.
Tibalah giliranku untuk diperiksa. Bidan itu berkata aku hanya kelelahan saja,
perlu banyak istirahat. Bidan itu hanya memberikanku obat penghilang rasa sakit
jika sesak nafasku tiba. Ibu sangat senang mendengar bahwa aku tidak apa-apa.
Ada kebahagiaan diraut wajahnya, walau terselip kekuatiran dihatinya.
***
2 minggu berlalu,
hari-hariku berjalan tidak seperti biasa. Semenjak kejadian yang menimpa teman
sebangkuku, aku tak mau lagi membentak ibu, aku takut jika hal itu terjadi
padaku. Namun bukan hal itu saja yang berubah, sesak nafas yang tak biasa
kurasa, kini datang tiba-tiba tanpa dapat kuprediksi. Aku lebih sering libur
sekolah akhir-akhir ini, malah ibu yang rajin kesekolah untuk membuatkan surat
izin untukku. Ntah sudah berapa buah namaku tercatat setiap halaman buku izin
sekolah.
Disetiap sakit yang
kurasa, ibu selalu bersiap siaga didekatku. Tidak seperti aku, yang jika ibu
sakit, aku malah sengaja meninggalkan rumah lalu pergi bersama teman-temanku
dari pada aku harus mengurus ibu. Ada rasa bersalah dibenakku, namun tak dapat
ku ambil lagi masa laluku yang begitu jahat sama ibu. Tapi aku ingin
memperbaikinya, ingin mengubah cerita yang kupunya lebih menyenangkan dari
sebelumnya. Ingin mengubah air mata ibuku menjadi tawa bahagia disetiap hari
yang ia punya.
***
Subuh ini kubangun
lebih awal, kuberlari kekamar ibu dan membangunkannya perlahan.
“Ibu..., ibu” bisikku
ketelinganya.
Ibu terbangun,
dilihatnya jam yang berada didekatnya. Ibu tidak marah padaku, ibu kembali
memperlihatkan lubang pipinya padaku, dan itu menambah sejuknya raut wajah ibu.
Ibu selalu paham akan inginku. Ibu
bangun dan menggandeng tanganku untuk berbarengan pergi ambil wudhu.
“Oowwh, Ya Allah salah
besarku padanya, hati apa yang kupunya selama ini, sampai kuterlalu tega
padanya. Lihat kelembutan hatinya. Ampunilah ia ya Allah” bisikku dalam hati.
Adzan subuh
berkumandang, kami bersiap-siap untuk sholat berjamaah. Diakhir salamku, dadaku
mulai sesak lagi. Tapi kali ini terasa menyakitkan dari yang biasanya. Ku
pegang dadaku erat.
“Ibu.... Ibu” Rintihku.
Aku tergeletak
dihamparan sajadah yang baru saja selesai kugunakan untuk sholat. Walau mataku
sedikit kabur, aku melihat wajah ibu sangat kuatir dan panik. Ibu memeluku
erat, air matanya jatuh dipipiku. Terasa setetes demi setetes mengenai wajahku,
tapi ntah kenapa air mata itu menyejukanku. Itu air mata ibuku, yang selalu
tumpah karena aku, karena aku yang selalu membentaknya, karena aku yang selalu
memarahinya, yaa..... aku yang selalu membuatnya menangis. Walau dada ini
terasa sangat sakit, tapi tetap kucoba usap perlahan air mata dipipi ibu. Ibu
semakin memeluku erat. Mata ku kian buram, dan tak mampu kulihat apa-apa lagi.
Sajadahku kini berurai
air mata, sajadahku menjadi saksi bisu hal yang terjadi di subuhku. Kini
sajadahku tak mampu lagi ku genggam. Sajadahku menjadi tempat terakhirku
bersujud padaNya, dan sajadahku tempat terakhir kurasakan pelukan hangat ibuku.
***
“Nak, dalam sujud ibu
selalu terselip namamu. Ibu ingin engkau bahagia nak, bahagia disisiNya. Ibu
selalu mencintaimu” Doa ibu, didepan pusaraku
_The
End_
Sedikit Mengenai Penulis
Bismillahirahmanirrohim........
Dikenal dengan nama
nama akrab Maya Chezee, lahir 17 April 1993. Menyukai hal-hal yang berhungan
dengan multimedia. Apalagi segala jenis desain. Kini berkuliah di Universitas
Riau, Jurusan Ilmu komunikasi angkatan 2011 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik.
0 komentar:
Posting Komentar