By: Maya Chezee
Siang hari itu
mentari tampak terik, Dania berjalan sendiri menyusuri jalan setapak. Mang Dodo
sang supir pribadinya tak bisa mengantarkan Dania kesekolah pagi ini, karna
harus mengantarkan Mama dan Papa Dania ke Bandara untuk menjenguk neneknya yang
lagi sakit di Australia. Langkah Dania semakin gontai ketika tak beberapa
langkah lagi sampai kedepan Gerbang sekolahnya.
“Daar”
Seseorang mengagetkan
Dania dari belakang, Itu Ve, sahabat baik Dania sejak SMP kelas satu, sampai
akhirnya mereka sama-sama melanjutkan SMA di tempat yang sama. Ve lah
satu-satunya cewek yang berani melawan preman pasar yang pernah mengganggui
Dania pada saat mereka berdua ditugaskan oleh kepala sekolah membeli barang
keperluan sekolah kepasar. Dania masih ingat betul betapa lincahnya Ve melawan
preman itu, mungkin jika Ve seorang cowok pastilah banyak cewek yang
tergila-gila padanya.
“Ueekk” Dania menjwerkan lidahnya.
“ Gak terkejut,,,,
gak terkejut”
Dan mereka berduapun
saling kejar-kejaran.
Bell tanda masuk pun
berbunyi, guru fisika yang terkenal killer disekolah merekapun masuk kekelas
dimana Dania dan Ve pagi ini memang harus belajar sama beliau yang datang
dengan tepat waktunya tanpa mengizinkan sedetikpun waktu terlewat untuk
menggantikan kesempatan mengajarnya.
***
Sebuah musibah
menimpa Ve, ibunya tak sengaja ditabrak oleh sebuah pengemudi mobil pada saat
dia berdua belanja ke pasar untuk membeli keperluan mingguan keluarganya. Ve
melihat dengan mata kepalanya sendiri tragedi yang Cuma hitungan detik membuat
tubuh ibunya terpelanting hingga berlumuran darah.
Di lorong rumah sakit
nampak Ve mondar mandir didepan sebuah kamar. Masih menunggui putusan dokter
bagaimana kondisi ibunya. Dania berusaha menenangkan Ve, tapi percuma. Ve
benar-benar sangat khawatir, pikirannya tak mampu lagi berfokus. Sesaat
kemudian, dokterpun keluar dari ruangan itu. Dokter mengatakan bahwa ibunya Ve
banyak mengeluarkan darah, jadi ia membutuhkan pendonor secepatnya dalam waktu
24 jam jika tidak mungkin nyawa ibu Ve tidak akan tertolong lagi.
“Bukankah ini rumah
sakit dokter, seharusnya rumah sakit yang menyediakan semua kebutuhan
pasiennya. Dokter tolong ibu saya, selamatkan dia Dok”
“ Maafkan kami,
disini memang rumah sakit, tapi golongan darah ibu anda terlalu langkah untuk
ditemukan, dan kebetulan rumah sakit kami 3 bulan belakangan tidak menerima
pendonor dari yang golongan darah AB”
Ve terdiam dan balik
memberontak kepada sang dokter tersebut, Dania dengan pelan berusaha
menenangkan hati Ve.
Dania pamit pada Ve
untuk mengizinkan dia pergi keluar mencari nasi, karna Dania tahu Ve dari pagi
sampai sore belum mengisikan apapun kedalam perutnya. Dania berhenti sejenak
disebuah parkiran dimana tempat mobilnya diparkirkan. Saat bergegas membalikan
tubuh Dania tak sengaja menabrak seseorang hingga jatuh. Ternyata itu Lion
teman sekelasnya disekolah yang juga lagi berkunjung menjenguk bibinya yang
lagi sakit.
Tak selang waktu
kemudian Dania tiba membeli makanan. Tanpa basa-basi Ve langsung berkata
“Bukankah golongan
darahmu sama dengan golongan darah ibuku Dan?,
tak maukah kau mendonorkan setetes darahmu demi kesembuhan ibuku.
Aaa,..aaku minta tolong dan.”
Dania hanya terdiam
mendengar Ve yang sudah mulai terbata-bata berbicara karna tak sanggup menahan
tangisannya.
“Kenapa diam, apakah
kamu tak mau bantu akau Dan? Bukankah selama ini kita saling berbagi satu sama
lain. Kenapa pada saat terdesak ini kau hanya diam?”
Dania lagi-lagi
terdiam dan berlari keluar meninggalkan bungkusan nasi yang telah dibelikannya
untuk Ve.
Esok harinya Dania
datang lagi kerumah sakit untuk melihat keadaan sabatnya dan ibunya. Baru aja
Dania tiba dirumah sakit, terlihat Ve lagi terduduk seperti orang tak sadarkan
diri dilantai rumah sakit. Dania mendekatinya.
“Apa..., puas kamu
sekarang. Dasar pengecut. Sahabat macam apa kamu, apakah ini yang dianamakan
sahabat. Apa tidak ada rasa kemanusiian
di hati mu. Sekarang aku tak mau melihat muka pengecut sepertimu. Karna bagiku
Dania sudah Mati!!!!” Dengan kasarnya Ve mengeluarkan cacian itu pada Dania.
Ternyata ibu Ve
meninggal dunia karna tak ada darah yang menggantikan darah ibunya karna
kecelakan itu. Ve benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya, bahkan ia
mengusir dania dari rumah sakit itu dengan kasarnya. Hari itulah ditandai
dengan longgarnya persahabatan Dania Ve
***
Minggu tempat
orang-orang biasanya untuk beristirahat dari kegiatn hari-hari
mereka yang melelahkan bahkan membosankan, tapi tidak dengan Dania. Karena dia
ingat betul bahwa hari ini Sahabat baiknya berulang tahun. Dania sibuk
menyarikan kado untuk sahabatnya. Karena saking seringnya Dania memberikan kado
pada Ve tiap ulang tahunnya, Dania bingung mau memberikan apalagi pada Ve.
Dania melihat buku catatan yang bergambarkan emo, aan Dania tau betul itu
gambar faforite Ve. Dania meniatkan untuk membelikannya itu saja. Saking
terburu-burunya Dania ingin memberikan ucapan selamat pada Ve, Dania lupa
membukus buku tersebut
Setiba dirumahnya Ve,
tanpa Ve lagi sibuk memainkan gitar kesukaanya yang sewaktu itu mereka beli
berdua pada saat pertama kali mereka bertemu. Dengan merdunya Dania menyanyikan lagu hapyy birthday
untuk Ve sambil menyodorkan buku yang barusan dibelinya spesial dalam rangka
ulang tahun Ve. Ternyata nyanyian dan kado itu tidak membuat hati Ve terkejut,
tapi malah membuat muka Ve merah dan
semakin marah. Diambilnya kado tersebut, lalu dilemparkannya ke hadapan Dania
sehingga Dania nampak terkejut dan terpukul
“Pergi sana
pengecut!!! Omong kosong apa lagi yang
kau buat. Bukankah ketakutanmu itu sudah membuatmu merasa bahagia??? . Jangan pernah lagi injakan kakimu
dirumahku. Karena bagi ku, kau sudah tak
berarti dan mati !!!!!” Kata-kata cacian keluar dari mulut Ve untuk Dania.
Tapi Dania tak
pantang menyerah “ aku kesini hanya untuk merayakan hari bahagiamu Ve, aku
minta maaf Ve. Jangan adili aku seperti ini. Aku minta maaf atas kejadian itu.
Ve maafkan aku.” Ve tidak menghiraukan perkataan Dania, Ve masuk kerumah dan
membanting keras pintu rumahnya.
***
Hujan menguyur begitu
mendadak, tanpak Ve berjalan gontai tanpa memperdulikan guyuran hujan itu.
Tiba-tiba datang seseorang dengan gagahnya menyodorkan payung berwarna agak
kecoklatan kearah Ve. Ternyata itu Lion, teman sekelasnya yang paling suka
diusilin Ve.
“Kebetulan kita
searahkan, jadi barengan aja ya” Lion mengeluarkan senyuman manisya.
Sambil jalan mereka
asik mengobrol, tawa cekikan dan tanpa mereka sadari hujan ternyata sudah 5
menit yang lalu berhenti, tapi mereka tetap juga memakai payung berdua karna
saking asik mengobrolnya. Sampai akhirnya topik pembicaraan mereka mengenai
persahabatn Ve dan Dania yang renggang. Ve menceritakan semua pada Lion.
Ternyata Lion menangkap bahwa Ve salah paham terhadap Dania. Lion yang dengan
gayanya yang cool mencoba berusaha meluruskan kejadian itu.
“Saat itu kejadiannya
diparkiran rumah sakit waktu ibumu dalam keadaan kritis yang berbarengan dengan
aku mau menjenguk bibiku yang ada dirumah sakit yang sama. Aku tak sengaja
mendengarkan percakapan dengan seseorang yang dipanggilnya Dok. Ternyata rasa
penasaran aku lebih tinggi, kenapa pada saat dia dirumah sakit malah menelvon
dokter bukankah bisa langsung ditemui diruangannya langsung. Tanpa ragu aku
bertanya, dengan ragu-ragu akhirnya Dania mau menjelaskannya padaku. Ternyata
dia selama ini menyembunyikan penyakit didalam tubuhnya. Dia terkena kanker.
Kamu taukan Ve bahwa penderita kanker tidak dianjurkan untuk mendonor darah ?”
“Kanker?, tapi Dania
selama ini tak pernah cerita apapun mengenai penyakit yang dideritanya. Bahkan
ia kelihatan seperti sehat-sehat saja”
“Dania sengaja
menyembunyikan itu darimu, agar dia tidak membuatmu khawatir , dan juga
aaa...aa. Loh Mau kemana Ve ?, kan lagi cerita langsung main pergi-pergi aja.
Anak itu emang gak pernah berubah. ckck“ Nada Lion agak sedikit kesal.
Akhirnya
Ve pun sadar ternyata dia salah paham selama ini pada Dania. Ve berlari dan
hendak menemui Dania, tapi tiba-tiba ditengah perjalanan tampak orang-orang
yang sedang bergelombol pada satu tempat, juga tampak percikan darah berserakan. Dan terlihat pula
sebuah mobil sedan putih terlumat dibawah himpitan mobil pengangkut tangki
minyak. Ve kenal akan mobil itu, tanpa fikir panjang Ve berlari dan memasuki
keruman orang-orang itu. Ternyata Dania tergeletak lemah dengan berumuran darah
disekitar tubuhnya. Ve menghampiri Dania lalu ia melihat sebuah buku bergambar
emo yang sedang dipeluk Dania, Ve ingat buku itu adalah hadiah untuknya yang
pernah dilemparkannya kehadapan Dania dengan marahnya. Terlihat coret-coretan
tinta biru memenuhi buku tersebut. Ve dengan pelan mengambil dan membaca isi buku
tersebut.
Untuk
sang tinta pewarna pelangi hariku, VE
Mungkin benar aku hanyalah sipengecut
yang tak pernah bisa dibanggakan,
Aku sipembual dengan penuh omong kosong
yang tak pernah bisa kumaknai,
Aku hanya sipenakut yang tak berani
membuka mata saat kegelapan itu muncul,
Bahkan untuk memajamkan mata saja aku
tak sanggup jika esok pagi aku tak bisa bangun lagi.
Andai waktu itu bisa
berjalan mundur
Mungkin akan kucoba
menebus semua celah luka yang tertambat dihatimu.
Bahkan jangankan meminta
setetes
Untuk ribuan organ ini ku
barikan untukmu ve
Ve
Aku ingin kan maaf mu .
Aku ingin minta beribu bahkan
berpuluh-puluh kata maaf dari mu
Apakah aku tak bisa lagi menjadi
penawar sepi
Pembasuh luka-luka yang membuatmu
lemah??
Aku...
Aku menunggu kata maaf..
Hanya untuk kata maaf..
Maaf...
Ve menghentikan
membaca tulisan itu, suara isak tangisan Ve mulai terdengar keras , dan maik
keras. Bahkan tak sanggup untuk Ve menghentikannya. Dania dengan erat
menggenggam tangan Ve.
“aku sudah memaafkan Dan,
aku sudah memaafkanmu Dan, berapa banyak maaf yang kamu butuhkan... aku akan
memberikan semua untukmu, aaa..kuu...........”
Genggaman erat itu
mulai melemah, dan semakin melemah. Sampai akhirnya genggaman itupun terlepas.
Denyut nadinya bahkan tak bisa dirasakan Ve,
detak jantung yang semula kencang
itu tak mampu terdengar lagi. Dan pada akhirnya kata maaf terakhir itu
menghantarkan Dania terlelap pada tidur panjangnya.
_THE END_