Kata Maaf Terakhir

Sabtu, 04 Januari 2014



                                      By: Maya Chezee

Siang hari itu mentari tampak terik, Dania berjalan sendiri menyusuri jalan setapak. Mang Dodo sang supir pribadinya tak bisa mengantarkan Dania kesekolah pagi ini, karna harus mengantarkan Mama dan Papa Dania ke Bandara untuk menjenguk neneknya yang lagi sakit di Australia. Langkah Dania semakin gontai ketika tak beberapa langkah lagi sampai kedepan Gerbang sekolahnya.
“Daar”
Seseorang mengagetkan Dania dari belakang, Itu Ve, sahabat baik Dania sejak SMP kelas satu, sampai akhirnya mereka sama-sama melanjutkan SMA di tempat yang sama. Ve lah satu-satunya cewek yang berani melawan preman pasar yang pernah mengganggui Dania pada saat mereka berdua ditugaskan oleh kepala sekolah membeli barang keperluan sekolah kepasar. Dania masih ingat betul betapa lincahnya Ve melawan preman itu, mungkin jika Ve seorang cowok pastilah banyak cewek yang tergila-gila padanya.
“Ueekk”   Dania menjwerkan lidahnya.
“ Gak terkejut,,,, gak terkejut”
Dan mereka berduapun saling kejar-kejaran.
Bell tanda masuk pun berbunyi, guru fisika yang terkenal killer disekolah merekapun masuk kekelas dimana Dania dan Ve pagi ini memang harus belajar sama beliau yang datang dengan tepat waktunya tanpa mengizinkan sedetikpun waktu terlewat untuk menggantikan kesempatan mengajarnya.
                                ***
Sebuah musibah menimpa Ve, ibunya tak sengaja ditabrak oleh sebuah pengemudi mobil pada saat dia berdua belanja ke pasar untuk membeli keperluan mingguan keluarganya. Ve melihat dengan mata kepalanya sendiri tragedi yang Cuma hitungan detik membuat tubuh ibunya terpelanting hingga berlumuran darah.
Di lorong rumah sakit nampak Ve mondar mandir didepan sebuah kamar. Masih menunggui putusan dokter bagaimana kondisi ibunya. Dania berusaha menenangkan Ve, tapi percuma. Ve benar-benar sangat khawatir, pikirannya tak mampu lagi berfokus. Sesaat kemudian, dokterpun keluar dari ruangan itu. Dokter mengatakan bahwa ibunya Ve banyak mengeluarkan darah, jadi ia membutuhkan pendonor secepatnya dalam waktu 24 jam jika tidak mungkin nyawa ibu Ve tidak akan tertolong lagi.
“Bukankah ini rumah sakit dokter, seharusnya rumah sakit yang menyediakan semua kebutuhan pasiennya. Dokter tolong ibu saya, selamatkan dia Dok”
“ Maafkan kami, disini memang rumah sakit, tapi golongan darah ibu anda terlalu langkah untuk ditemukan, dan kebetulan rumah sakit kami 3 bulan belakangan tidak menerima pendonor dari yang golongan darah AB”
Ve terdiam dan balik memberontak kepada sang dokter tersebut, Dania dengan pelan berusaha menenangkan hati Ve.
Dania pamit pada Ve untuk mengizinkan dia pergi keluar mencari nasi, karna Dania tahu Ve dari pagi sampai sore belum mengisikan apapun kedalam perutnya. Dania berhenti sejenak disebuah parkiran dimana tempat mobilnya diparkirkan. Saat bergegas membalikan tubuh Dania tak sengaja menabrak seseorang hingga jatuh. Ternyata itu Lion teman sekelasnya disekolah yang juga lagi berkunjung menjenguk bibinya yang lagi sakit.
Tak selang waktu kemudian Dania tiba membeli makanan. Tanpa basa-basi Ve langsung berkata
“Bukankah golongan darahmu sama dengan golongan darah ibuku Dan?,  tak maukah kau mendonorkan setetes darahmu demi kesembuhan ibuku. Aaa,..aaku minta tolong dan.”
Dania hanya terdiam mendengar Ve yang sudah mulai terbata-bata berbicara karna tak sanggup menahan tangisannya.
“Kenapa diam, apakah kamu tak mau bantu akau Dan? Bukankah selama ini kita saling berbagi satu sama lain. Kenapa pada saat terdesak ini kau hanya diam?”
Dania lagi-lagi terdiam dan berlari keluar meninggalkan bungkusan nasi yang telah dibelikannya untuk Ve.
Esok harinya Dania datang lagi kerumah sakit untuk melihat keadaan sabatnya dan ibunya. Baru aja Dania tiba dirumah sakit, terlihat Ve lagi terduduk seperti orang tak sadarkan diri dilantai rumah sakit. Dania mendekatinya.
“Apa..., puas kamu sekarang. Dasar pengecut. Sahabat macam apa kamu, apakah ini yang dianamakan sahabat.  Apa tidak ada rasa kemanusiian di hati mu. Sekarang aku tak mau melihat muka pengecut sepertimu. Karna bagiku Dania sudah Mati!!!!” Dengan kasarnya Ve mengeluarkan cacian itu pada Dania.
Ternyata ibu Ve meninggal dunia karna tak ada darah yang menggantikan darah ibunya karna kecelakan itu. Ve benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya, bahkan ia mengusir dania dari rumah sakit itu dengan kasarnya. Hari itulah ditandai dengan longgarnya persahabatan Dania Ve
***
Minggu tempat orang-orang  biasanya  untuk beristirahat dari kegiatn hari-hari mereka yang melelahkan bahkan membosankan, tapi tidak dengan Dania. Karena dia ingat betul bahwa hari ini Sahabat baiknya berulang tahun. Dania sibuk menyarikan kado untuk sahabatnya. Karena saking seringnya Dania memberikan kado pada Ve tiap ulang tahunnya, Dania bingung mau memberikan apalagi pada Ve. Dania melihat buku catatan yang bergambarkan emo, aan Dania tau betul itu gambar faforite Ve. Dania meniatkan untuk membelikannya itu saja. Saking terburu-burunya Dania ingin memberikan ucapan selamat pada Ve, Dania lupa membukus buku tersebut
Setiba dirumahnya Ve, tanpa Ve lagi sibuk memainkan gitar kesukaanya yang sewaktu itu mereka beli berdua pada saat pertama kali mereka bertemu. Dengan  merdunya Dania menyanyikan lagu hapyy birthday untuk Ve sambil menyodorkan buku yang barusan dibelinya spesial dalam rangka ulang tahun Ve. Ternyata nyanyian dan kado itu tidak membuat hati Ve terkejut, tapi malah membuat  muka Ve merah dan semakin marah. Diambilnya kado tersebut, lalu dilemparkannya ke hadapan Dania sehingga Dania nampak terkejut dan terpukul
“Pergi sana pengecut!!!   Omong kosong apa lagi yang kau buat. Bukankah ketakutanmu itu sudah membuatmu merasa bahagia??? .    Jangan pernah lagi injakan kakimu dirumahku.  Karena bagi ku, kau sudah tak berarti dan mati !!!!!” Kata-kata cacian keluar dari mulut Ve untuk Dania.
Tapi Dania tak pantang menyerah “ aku kesini hanya untuk merayakan hari bahagiamu Ve, aku minta maaf Ve. Jangan adili aku seperti ini. Aku minta maaf atas kejadian itu. Ve maafkan aku.” Ve tidak menghiraukan perkataan Dania, Ve masuk kerumah dan membanting keras pintu rumahnya.
                                        ***
Hujan menguyur begitu mendadak, tanpak Ve berjalan gontai tanpa memperdulikan guyuran hujan itu. Tiba-tiba datang seseorang dengan gagahnya menyodorkan payung berwarna agak kecoklatan kearah Ve. Ternyata itu Lion, teman sekelasnya yang paling suka diusilin Ve.
“Kebetulan kita searahkan, jadi barengan aja ya” Lion mengeluarkan senyuman manisya.
Sambil jalan mereka asik mengobrol, tawa cekikan dan tanpa mereka sadari hujan ternyata sudah 5 menit yang lalu berhenti, tapi mereka tetap juga memakai payung berdua karna saking asik mengobrolnya. Sampai akhirnya topik pembicaraan mereka mengenai persahabatn Ve dan Dania yang renggang. Ve menceritakan semua pada Lion. Ternyata Lion menangkap bahwa Ve salah paham terhadap Dania. Lion yang dengan gayanya yang cool mencoba berusaha meluruskan kejadian itu.
“Saat itu kejadiannya diparkiran rumah sakit waktu ibumu dalam keadaan kritis yang berbarengan dengan aku mau menjenguk bibiku yang ada dirumah sakit yang sama. Aku tak sengaja mendengarkan percakapan dengan seseorang yang dipanggilnya Dok. Ternyata rasa penasaran aku lebih tinggi, kenapa pada saat dia dirumah sakit malah menelvon dokter bukankah bisa langsung ditemui diruangannya langsung. Tanpa ragu aku bertanya, dengan ragu-ragu akhirnya Dania mau menjelaskannya padaku. Ternyata dia selama ini menyembunyikan penyakit didalam tubuhnya. Dia terkena kanker. Kamu taukan Ve bahwa penderita kanker tidak dianjurkan untuk mendonor darah ?”
“Kanker?, tapi Dania selama ini tak pernah cerita apapun mengenai penyakit yang dideritanya. Bahkan ia kelihatan seperti sehat-sehat saja”
“Dania sengaja menyembunyikan itu darimu, agar dia tidak membuatmu khawatir , dan juga aaa...aa. Loh Mau kemana Ve ?, kan lagi cerita langsung main pergi-pergi aja. Anak itu emang gak pernah berubah. ckck“ Nada Lion agak sedikit kesal.
        Akhirnya Ve pun sadar ternyata dia salah paham selama ini pada Dania. Ve berlari dan hendak menemui Dania, tapi tiba-tiba ditengah perjalanan tampak orang-orang yang sedang bergelombol pada satu tempat, juga tampak  percikan darah berserakan. Dan terlihat pula sebuah mobil sedan putih terlumat dibawah himpitan mobil pengangkut tangki minyak. Ve kenal akan mobil itu, tanpa fikir panjang Ve berlari dan memasuki keruman orang-orang itu. Ternyata Dania tergeletak lemah dengan berumuran darah disekitar tubuhnya. Ve menghampiri Dania lalu ia melihat sebuah buku bergambar emo yang sedang dipeluk Dania, Ve ingat buku itu adalah hadiah untuknya yang pernah dilemparkannya kehadapan Dania dengan marahnya. Terlihat coret-coretan tinta biru memenuhi buku tersebut. Ve dengan pelan mengambil dan membaca isi buku tersebut.
Untuk sang tinta pewarna pelangi hariku, VE
Mungkin benar aku hanyalah sipengecut yang tak pernah bisa dibanggakan,
Aku sipembual dengan penuh omong kosong yang tak pernah bisa kumaknai,
Aku hanya sipenakut yang tak berani membuka mata saat kegelapan itu muncul,
Bahkan untuk memajamkan mata saja aku tak sanggup jika esok pagi aku tak bisa bangun lagi.
Andai waktu itu bisa berjalan mundur
Mungkin akan kucoba menebus semua celah luka yang tertambat dihatimu.
Bahkan jangankan meminta setetes
Untuk ribuan organ ini ku barikan untukmu ve
Ve
Aku ingin kan maaf mu .
Aku ingin minta beribu bahkan berpuluh-puluh kata maaf dari mu
Apakah aku tak bisa lagi menjadi penawar sepi
Pembasuh luka-luka yang membuatmu lemah??
Aku...
Aku menunggu kata maaf..
Hanya untuk kata maaf..
Maaf...
Ve menghentikan membaca tulisan itu, suara isak tangisan Ve mulai terdengar keras , dan maik keras. Bahkan tak sanggup untuk Ve menghentikannya. Dania dengan erat menggenggam tangan Ve.
“aku sudah memaafkan Dan, aku sudah memaafkanmu Dan, berapa banyak maaf yang kamu butuhkan... aku akan memberikan semua untukmu, aaa..kuu...........”
Genggaman erat itu mulai melemah, dan semakin melemah. Sampai akhirnya genggaman itupun terlepas. Denyut nadinya bahkan tak bisa dirasakan Ve,   detak jantung yang semula kencang  itu tak mampu terdengar  lagi. Dan pada akhirnya kata maaf terakhir itu menghantarkan Dania terlelap pada tidur panjangnya.
_THE END_


Puisi Ibu

Sosok Tua Rentah By: Maya Chezee

Terjangan lautan kehidupan membawaku kegelombang kesedihan,
Langkah yang terayun tak mampu membawaku ketepian kebahagiaan,
Hariku suram ditengah lautan dalam
Aku jatuh dan hampir tenggelam dalam gemercikan rapuhku

Namun......
Ada sosok tua rentah yang tak pernah lelah menyeretku ketepian,
Menyelamatkanku dalam gulungan ombak sedihku.
Mengubah tangisanku kedalam senyumanku
Ya... Kau sosok tua rentah penuh cinta,

Ku yakin,
Pelangi yang disana adalah warna yang kau lukis wujud kasihmu untukku,
Ku yakin, lautan terbentang luas adalah hamparan cintamu padaku.
Ku yakin.... 
Mentari yang bersinar tak mampu mengalahkan hangatnya pelukanmu,
Terangnya bulan dikegelapan malam tak mampu menyaingi cahaya kasihmu,
Tulus kasihmu sejauh jalan yang tak mampu ku tau ujungnya,
Lembutmu gapai hari-hariku yang tertapak .....

Itulah engkau sosok tua rentah..
sang penapak hati pemilik kasih tiada terganti.
Sosok yang selalu kupanggil dengan nama Ibu.
Terimakasih ibu.........

Sedikit tentang Penulis:
Penulis yang akrab disapa Maya Chezee yang sekarang berkuliah di Universitas Riau jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2011 FISIP. Sekarang disibukan dengan hal-hal apapun yang dia senangi. Misalnya, menulis, fotografi, desain dan hal-hal lain.

maya_cerpen



Kuurai sajadahku dalam pelukanmu, Ibu
By: Maya Chezee
“Aulia.”
“Auliaa..”
“Auliaaa..aa”
3 kali ibu memanggil namaku yang tiada satupun kuhiraukan. Ntah apa, ntah mengapa, kuselalu tak suka dipanggil ibu saat aku sibuk dengan facebookku. Aku masih tetap dengan keeksisanku didunia maya. Upload fotoku yang baru tadi siang ku ambil bersama teman-temanku. Mengubah foto profilku yang sebelumnya bergaya dengann jari telunjuk dan jari tengah menghadap kamera sekarang dengan jariku yang kutaruh didagu dan sedikit tersenyum manis memamerkan lubang dipipiku. Teman-temanku bilang itu yang menambah kecantikanku dan itu juga yang membuat setiap cowok-cowok terpesona melihatku.
“aduhh..” teriakku pelan.
Ibu memukul pundakku dengan jemarinya. Namun tetap tidak mengubahku meneruskan aktifitas facebookku, malah aku meneruskan memilah dan memilih foto mana yang bisa terpilih untuk memenuhi kumpulan fotoku difacebook. Sekali lagi ibu menepuk pundaku, tetap ku sibuk, dan akhirnya ibu mengambil laptopku. Dengan suara tinggiku, kubentak ibu.
“Astaghfirullah... nak, ibu sedari tadi memnggilmu untuk sholat, tapi kau hanya menghiraukan panggilan setan itu untuk menyuruhmu tidak sholat, malah ibumu yang kau bentak” Mata ibu terlihat berkaca-kaca, lalu pergi meninggalkanku dengan langkah kecewanya.
Aku terdiam sejenak, ada rasa penyesalan itu, namun beberapa detik ibu berlalu, kuteruskan lagi mengupload fotoku yang tinggal 2 lagi. Setelah kepuasanku menelusuri mauku didunia maya, barulah kuberanjak menunaikan sholat.
***
Pagi-pagi seperti biasa jam setengah 5 ku dibangunkan ibu untuk bersiap sholat subuh. Dengan rasa ngantukku, ku tidak mengubris panggilan ibu. Ibu datang kekamarku dan berusaha untukku segera bangkit dari tempat tidur. Dan lagi, suara berlevel tinggi keluar dari mulutku.
Dengan pelan ibu menjawab “Cukuplah engkau abaikan panggilan ibu, tapi jangan engkau abaikan panggilan Allah. Jangan perlihatkan kemarahanmu, karena marah Allah lebih menyeramkan dari ini nak”.
Aku bangkit dari tidurku, namun tetap dalam hatiku terselip kekesalanku pada ibu, karena telah menggangu tidurku.
***
Sudah hampir jam 8, teman sebangkuku yang biasanya paling rajin datang kesekolah kini belum terlihat batang hidungnya. Kulihat HP ku, tidak ada sms satupun pemberitahuan kabar darinya. Terlintas dalam pikiranku dia tak mungkin tak akan datang, karna hari ini ada kuis Matematika pelajaran kesukaannya. Akhirnya guruku datang, aku mulai ketakutan akan kuis itu, teman sebangku yang biasanya menolongku tetap belum datang. Tapi, ternyata ibu guru bukan mengasih kuis tapi ibu mengasihkan informasi bahwasanya salah satu orang tua dari teman sekelasku meninggal dunia.
“apaaa..... tidak, ini tidak mungkin. Kemarin baru saja kebercanda dengan ibunya” Aku kaget sangat kaget dengan pemberitahuan itu.
Tenyata itu ibu Pricil teman sebangkuku. Pantas dia pagi ini tidak masuk sekolah. Aku tak menyangka, karena kuyakin kemaren Ibu Pricil masih dalam keadaan sehat wal’afiat. Namun itulah maut, tidak mengenal hari, waktu, tempat dan apapun didunia ini.
Bukan Pricil yang ku fokuskan, tapi dalam sejenak pikiranku melayang pada ibuku. Bagaimana jika ibuku?, bagaimana jika aku?, bagaimana..... Beribu pertanyaan tertuang dalam pikiranku. Aku merasakan ketakutan jika kehilangan ibu.
***
“Assalamu’alaikum”  Kuucapkan salam yang tak biasanya terucap setibanya ku dirumah.
Belum sempat ibuku menjawab, ku berlari ke arah ibu dan memeluk ibuku erat. Ibu kelihatanya bingung dengan tingkahku, dia hanya menanyakan kenapa aku telat pulang. Aku menceritakan kejadian yang menimpa temanku, dan tanpa ku harus menjelaskan bahwa aku juga takut mengalami kejadian itu, aku takut kehilangan ibu, aku takut jauh dari ibu, karena kumalu mengatakannya. Tapi raut wajah ibu sepertinya tahu yang kurasakan, keluar senyuman manis dipipinya, ternyata lubang pipi ibu lebih manis dari yang ku punya.
“Ibu manis” sedikit ku merayu ibu.
Ibu hanya tersenyum dan berlalu pergi sambil ia mengatakan nasi sudah tersedia di meja. Aku segera berlari, karena kebetulan perut ini lapar sekali.
Malamnya setelah magrib, kumenuju dapur dan kuberniat memasakan sesuatu untuk ibu, namun ntah mengapa dadaku terasa sesak. Sakit sekali rasanya, aku belum pernah merasakan hali ini. Ibu berlari menghampiriku karena melihatku kesakitan.
“Kenapa nak?” dengan suara lembutnya, ibu bertanya keadaanku.
Aku tidak menjawab, suara ini seakan ditahan dengan deru nafasku yang kian menyakitkan dadaku. Ibu membawaku ke rumah bidan yang berada tidak jauh dari rumah. Tibanya disana, kami harus menunggu sesaat, karena ada pasien yang lebih dulu datang dari kami. Tibalah giliranku untuk diperiksa. Bidan itu berkata aku hanya kelelahan saja, perlu banyak istirahat. Bidan itu hanya memberikanku obat penghilang rasa sakit jika sesak nafasku tiba. Ibu sangat senang mendengar bahwa aku tidak apa-apa. Ada kebahagiaan diraut wajahnya, walau terselip kekuatiran dihatinya.
***
2 minggu berlalu, hari-hariku berjalan tidak seperti biasa. Semenjak kejadian yang menimpa teman sebangkuku, aku tak mau lagi membentak ibu, aku takut jika hal itu terjadi padaku. Namun bukan hal itu saja yang berubah, sesak nafas yang tak biasa kurasa, kini datang tiba-tiba tanpa dapat kuprediksi. Aku lebih sering libur sekolah akhir-akhir ini, malah ibu yang rajin kesekolah untuk membuatkan surat izin untukku. Ntah sudah berapa buah namaku tercatat setiap halaman buku izin sekolah.
Disetiap sakit yang kurasa, ibu selalu bersiap siaga didekatku. Tidak seperti aku, yang jika ibu sakit, aku malah sengaja meninggalkan rumah lalu pergi bersama teman-temanku dari pada aku harus mengurus ibu. Ada rasa bersalah dibenakku, namun tak dapat ku ambil lagi masa laluku yang begitu jahat sama ibu. Tapi aku ingin memperbaikinya, ingin mengubah cerita yang kupunya lebih menyenangkan dari sebelumnya. Ingin mengubah air mata ibuku menjadi tawa bahagia disetiap hari yang ia punya.
***
Subuh ini kubangun lebih awal, kuberlari kekamar ibu dan membangunkannya perlahan.
“Ibu..., ibu” bisikku ketelinganya.
Ibu terbangun, dilihatnya jam yang berada didekatnya. Ibu tidak marah padaku, ibu kembali memperlihatkan lubang pipinya padaku, dan itu menambah sejuknya raut wajah ibu. Ibu  selalu paham akan inginku. Ibu bangun dan menggandeng tanganku untuk berbarengan pergi ambil wudhu.
“Oowwh, Ya Allah salah besarku padanya, hati apa yang kupunya selama ini, sampai kuterlalu tega padanya. Lihat kelembutan hatinya. Ampunilah ia ya Allah” bisikku dalam hati.
Adzan subuh berkumandang, kami bersiap-siap untuk sholat berjamaah. Diakhir salamku, dadaku mulai sesak lagi. Tapi kali ini terasa menyakitkan dari yang biasanya. Ku pegang dadaku erat.
“Ibu.... Ibu” Rintihku.
Aku tergeletak dihamparan sajadah yang baru saja selesai kugunakan untuk sholat. Walau mataku sedikit kabur, aku melihat wajah ibu sangat kuatir dan panik. Ibu memeluku erat, air matanya jatuh dipipiku. Terasa setetes demi setetes mengenai wajahku, tapi ntah kenapa air mata itu menyejukanku. Itu air mata ibuku, yang selalu tumpah karena aku, karena aku yang selalu membentaknya, karena aku yang selalu memarahinya, yaa..... aku yang selalu membuatnya menangis. Walau dada ini terasa sangat sakit, tapi tetap kucoba usap perlahan air mata dipipi ibu. Ibu semakin memeluku erat. Mata ku kian buram, dan tak mampu kulihat apa-apa lagi.
Sajadahku kini berurai air mata, sajadahku menjadi saksi bisu hal yang terjadi di subuhku. Kini sajadahku tak mampu lagi ku genggam. Sajadahku menjadi tempat terakhirku bersujud padaNya, dan sajadahku tempat terakhir kurasakan pelukan hangat ibuku.
***
“Nak, dalam sujud ibu selalu terselip namamu. Ibu ingin engkau bahagia nak, bahagia disisiNya. Ibu selalu mencintaimu” Doa ibu, didepan pusaraku

_The End_


Sedikit Mengenai Penulis
Bismillahirahmanirrohim........
Dikenal dengan nama nama akrab Maya Chezee, lahir 17 April 1993. Menyukai hal-hal yang berhungan dengan multimedia. Apalagi segala jenis desain. Kini berkuliah di Universitas Riau, Jurusan Ilmu komunikasi angkatan 2011 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.