Aku terduduk manis dalam sederetan
bangku perkuliahan yang berjajar tak begitu terarah. Aku hanya terpaku diam
mendengarkan celotehan panjang dari seorang dosenku. Kadang untuk meneguk
setetes air saja yang tersedia diatas mejanya saja tak terfikirkan karna saking
dia bersemangatnya mengajar memperkenalkan mata kuliahan studi masyarakat
melayu pada mahasisiwanya. Terlintas sesaat dibenakku apakah tak merasa bosan
dengan celotehan panjang itu sementara mahasiswa sibuk dengan
aktivitas-aktivitasnya yang lain tanpa meghiraukan pembicaraannya itu. Mungkin
untuk sejenak aku menyombongkan diri, mungkin hanya aku yang mau konsentrasi
unutk mata kuliahan satu ini.
Mungkin
selama ini aku yang hanya pura-pura tuli untuk mendengarkan pidato panjang
nenekku mengenai sejarah melayu, mama pun kualahan menyuruhku untuk skali-skali
bisa memekai baju khas melayu dalam acara-acara adat tertentu, bahkan sampai
papa ikut-ikutan cerewet bahkan melebihi cerewetnya mama. Tapi aku tetap saja
cuek, masa bodoh. Terkadang akupun sampai lupa kalau aku keturunan melayu. Hmm
...
Tapi
ajaib kali ini, Aku mau mendengarkan sejarah tentang melayu. Dari dosen
bertanya tentang apakah melayu itu disebut bangsa, ras, ethnik, tau suku bangsa
pun aku bersemangat unutk mengetahui jawaban itu. Hal paling membosankan itu
dalam sekejap seeakan menjadi cerita yang bernilai mahal dengan naskah buatan
penulis ternama yang dibintangi artis-artis ngetop yang mendapatkan panasonic
gobel award dengan penonton yang membludak melebihi kapasitas normal.
Wuiiihhh,,,,,, Mungkin di bilang belebihan atau sebutan sekarang paling keren
tu Lebbay. Tapi sedikit banyaknya itu lah yang ku rasakan. Mugkin karna
dosennya ganteng, gak ah dah tua gitu pun mungkin diibaratkan sudah punya lebih
dari dua istri. Atau karna ada anak yang disukai dalam kelas jadi pura-pura
pintr dihadapan dia, iih paling gak banget dechhhh yang ada orang gak kenal
semua, kan kelasnya bercampur sama kakak senior tapi dengan jurusan berbeda.
Atauuuu...... Mungkin emang gak punya pertanyaan-pertanyaan lagi untuk menjawab
kebingungan ini. Sampai bapak tu ngasih tugas yang awalnya dipikirkan berat,
ternyata Cuma suruh datang kemuseum yang ada dipekanbaru ini dan disuruhnya
ngeresume tentang apa yang kita temui disana plusss skalian berfoto sebagai
barang bukti.
Tugas
diberikan untuk dua minggu mendatang, tapi dua hari setelah tugas diberikan aku
sudah nyampe dimuseum tersebut bareng dengan teman tapi beda jurusan. Tertulis
dipalang nama yang hurufnya sudah hilang satu tau benar-benar sengaja dibuat
begitu tulisanya. Tertulis “Museum Daerah Sang Nila Utama”. Namanya aja kereeen
pa lagi isinya. Disana da batu bertulisan arab segi empat, batu yang diletakin
berdiri yang dinamai prasasti kota kapur gak jauh beda tingginya ma aku, beduk
berukuran raksasa, foto-foto beberapa tokoh sejarahnya, ada pula beberapa
benda-benda peninggalan yang diletakan dalam kaca unutk menjaga supaya gak
kemalingan mungkin atau dari debu-debu nakal. Paling menarik itu yang terlihat
itu ada sebuah benda yang terbuat dari kayu tapi berbentuk siput, yang anehnya
kayu itu dinamakan batu siput. Katanya kayu tapi dinamakan batu yang benar yang
mana yaa..
Apa
lagi yang bisa ditutupi sekarang, jiwaku memng sudah luluh semuanya.ternyata
begitu indah untuk mengenal kebudayaan sendiri dari kebudayaan asing yang
selama ini terus bangga-banggakan. Siapa lagi yang dapat mewariskan
kebudayaannya kalau tidak anak budaya itu sendiri. Apa masih berhak untuk
pura-pura tuli, bahkan acuh.. GAK..
Betapa
indahnya sejarah itu, mungkin ratusan buku sudah yang akan kuterbitkan jika aku
menulis tentang kebudayaan ini. Aku bangga jadi anak melayu. Kan ku tuangkan
tulisanku untuk ku kenalkan pada keturunanku kelak. Betapa bangganya jika
memiliki dari pada harus tahu tapi sudah dimili orang lain.
0 komentar:
Posting Komentar