Aku Bangga Menjadi Anak Melayu

Sabtu, 03 November 2012


     Aku terduduk manis dalam sederetan bangku perkuliahan yang berjajar tak begitu terarah. Aku hanya terpaku diam mendengarkan celotehan panjang dari seorang dosenku. Kadang untuk meneguk setetes air saja yang tersedia diatas mejanya saja tak terfikirkan karna saking dia bersemangatnya mengajar memperkenalkan mata kuliahan studi masyarakat melayu pada mahasisiwanya. Terlintas sesaat dibenakku apakah tak merasa bosan dengan celotehan panjang itu sementara mahasiswa sibuk dengan aktivitas-aktivitasnya yang lain tanpa meghiraukan pembicaraannya itu. Mungkin untuk sejenak aku menyombongkan diri, mungkin hanya aku yang mau konsentrasi unutk mata kuliahan satu ini.
      Mungkin selama ini aku yang hanya pura-pura tuli untuk mendengarkan pidato panjang nenekku mengenai sejarah melayu, mama pun kualahan menyuruhku untuk skali-skali bisa memekai baju khas melayu dalam acara-acara adat tertentu, bahkan sampai papa ikut-ikutan cerewet bahkan melebihi cerewetnya mama. Tapi aku tetap saja cuek, masa bodoh. Terkadang akupun sampai lupa kalau aku keturunan melayu. Hmm ...
      Tapi ajaib kali ini, Aku mau mendengarkan sejarah tentang melayu. Dari dosen bertanya tentang apakah melayu itu disebut bangsa, ras, ethnik, tau suku bangsa pun aku bersemangat unutk mengetahui jawaban itu. Hal paling membosankan itu dalam sekejap seeakan menjadi cerita yang bernilai mahal dengan naskah buatan penulis ternama yang dibintangi artis-artis ngetop yang mendapatkan panasonic gobel award dengan penonton yang membludak melebihi kapasitas normal. Wuiiihhh,,,,,, Mungkin di bilang belebihan atau sebutan sekarang paling keren tu Lebbay. Tapi sedikit banyaknya itu lah yang ku rasakan. Mugkin karna dosennya ganteng, gak ah dah tua gitu pun mungkin diibaratkan sudah punya lebih dari dua istri. Atau karna ada anak yang disukai dalam kelas jadi pura-pura pintr dihadapan dia, iih paling gak banget dechhhh yang ada orang gak kenal semua, kan kelasnya bercampur sama kakak senior tapi dengan jurusan berbeda. Atauuuu...... Mungkin emang gak punya pertanyaan-pertanyaan lagi untuk menjawab kebingungan ini. Sampai bapak tu ngasih tugas yang awalnya dipikirkan berat, ternyata Cuma suruh datang kemuseum yang ada dipekanbaru ini dan disuruhnya ngeresume tentang apa yang kita temui disana plusss skalian berfoto sebagai barang bukti.
      Tugas diberikan untuk dua minggu mendatang, tapi dua hari setelah tugas diberikan aku sudah nyampe dimuseum tersebut bareng dengan teman tapi beda jurusan. Tertulis dipalang nama yang hurufnya sudah hilang satu tau benar-benar sengaja dibuat begitu tulisanya. Tertulis “Museum Daerah Sang Nila Utama”. Namanya aja kereeen pa lagi isinya. Disana da batu bertulisan arab segi empat, batu yang diletakin berdiri yang dinamai prasasti kota kapur gak jauh beda tingginya ma aku, beduk berukuran raksasa, foto-foto beberapa tokoh sejarahnya, ada pula beberapa benda-benda peninggalan yang diletakan dalam kaca unutk menjaga supaya gak kemalingan mungkin atau dari debu-debu nakal. Paling menarik itu yang terlihat itu ada sebuah benda yang terbuat dari kayu tapi berbentuk siput, yang anehnya kayu itu dinamakan batu siput. Katanya kayu tapi dinamakan batu yang benar yang mana yaa..
      Apa lagi yang bisa ditutupi sekarang, jiwaku memng sudah luluh semuanya.ternyata begitu indah untuk mengenal kebudayaan sendiri dari kebudayaan asing yang selama ini terus bangga-banggakan. Siapa lagi yang dapat mewariskan kebudayaannya kalau tidak anak budaya itu sendiri. Apa masih berhak untuk pura-pura tuli, bahkan acuh.. GAK..
      Betapa indahnya sejarah itu, mungkin ratusan buku sudah yang akan kuterbitkan jika aku menulis tentang kebudayaan ini. Aku bangga jadi anak melayu. Kan ku tuangkan tulisanku untuk ku kenalkan pada keturunanku kelak. Betapa bangganya jika memiliki dari pada harus tahu tapi sudah dimili orang lain.

0 komentar: